more than just radio

more than just radio
pro2
Tampilkan postingan dengan label Klinik Angkasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Klinik Angkasa. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 November 2007

RUANG Psikologi Edisi Selasa 20 Nov 2007

Tradisi Ngerumpi
Pasti tidak semua orang memang, tetapi bisa dipastikan ada sebagian dari kita yang menikmati tradisi ngerumpi di tempat kerja. Secara umum, materi ngerumpi itu bisa dikategorikan menjadi tiga. Pertama, menjadikan orang sebagai bahasan utama kita. Kedua, menjadikan peristiwa sebagai bahasan utama kita. Ketiga, menjadikan gagasan, ide, rencana dan semacamnya sebagai bahasan utama kita.

Pasti juga tidak semua ngerumpi itu jelek, tetapi dipastikan ada bagian dari tradisi ngerumpi itu yang menjadikan kejelekan orang lain (atasan, bawahan, sesama) sebagai materi pembahasan utama. Membahas kejelekan orang lain ini juga bukan sebuah bahasan yang mudah berakhir dengan titik, melainkan menjadi bahasan yang ber-ujung koma. Artinya, setelah pendapat itu dikeluarkan, pasti akan ada pendapat lanjutan yang mendukung atau menentang pendapat terakhir itu.

Perlukah kita membahas praktek ngerumpi di tempat kerja yang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari? Apakah dampaknya ngerumpi bagi diri kita dan orang lain? Ukuran apakah yang bisa kita jadikan standar untuk membatasi diri kita? Dan apa saja yang masih mungkin kita lakukan untuk mengurangi praktek ngerumpi yang sudah didasari oleh cara penglihatan yang sempit, ibaratnya menggunakan mata kuda ?

Critical Spirit

Istilah critical spirit di sini saya pinjam dari bukunya John C. Maxwell berjudul The 17 Indisputable Laws of Teamwork (Thomas Nelson, Inc: 2001). Meminjam penggunaan dari istilah ini, critical spirit yang dimaksudkan adalah pembicaraan kita tentang orang lain yang hanya didasarkan oleh semangat untuk mengkritik semata. Kritik di sini bukanlah kritik politis yang masih bisa dipilah antara kritik konstruktif dan destruktif tetapi kritik dalam pengertian individu (individual critic) yang sudah menjadi kebiasaan diri kita. Dalam konteks antar individu, John C. Maxwell menempatkan critical spirit sebagai salah satu ancaman bagi kebersamaan sebuah tim usaha.

Salah satu yang menjadi penyebab adalah apa yang oleh pepatah kuno disebut "Lensa Penglihatan Mata Kuda". Setiap orang memiliki dua lensa yang digunakan untuk melihat orang lain. Lensa pertama adalah lensa positif, seperti yang biasa digunakan oleh orang yang sedang mesra-mesranya berpacaran. Lensa kedua, adalah lensa negatif seperti yang digunakan oleh orang yang sudah dikuasai oleh semangat mengkritik. "Lensa positif menutupi segala kesalahan, sementara lensa negatif membongkar seluruh kesalahan".

Meskipun semua orang sudah diberi dua lensa tetapi keduanya tidak bekerja berbarengan dalam satu waktu. Ketika lensa positif yang kita gunakan maka lensa negatif tidak aktif dan begitu juga sebaliknya ketika lensa negatif yang kita gunakan. Berdasarakan kecenderungan umum, penggunaan lensa itu lebih dikendalikan oleh kebiasaan (habits) antara "Lupa" dan "Ingat" kecuali bagi sedikit orang yang sudah belajar menggunakannya secara bergantian sesuai kepentingan (kritik membangun).

Istilah "Lupa" dan "Ingat" ini seperti yang pernah digambarkan oleh Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir-nya sama seperti kita mengenang jasa pahlawan. Ketika kita sedang mengangkat setinggi-tinggi kehebatan seorang tokoh, maka saat itulah sistem saraf kita sedang lupa kekurangannya. Sebaliknya ketika kita sedang menghujat kelemahannya, maka saat itu pula kita sedang lupa kehebatannya. Faktanya, kita sebagai manusia, juga akan secara bergantian dinilai baik buruknya, kurang lebihnya, oleh orang lain dengan menggunakan sistem penilaian lupa dan ingat.

Berarti, penilaian yang sudah melebihi batas proporsinya tidak saja membahayakan bagi orang lain atau lingkungan tetapi justru membahayakan bagi kita. Bahaya yang mungkin paling dekat adalah seperti yang diingatkan oleh Albert Einstein. Setiap orang punya kebebasan memilih salah satu dari dua cara hidup. Cara pertama adalah melihat dunia dengan kesimpulan sebagai mu’jizat, penuh keajaiban, penuh kebaikan, penuh peluang, dan seterusnya (everything’s miracle). Cara kedua adalah melihat dunia dengan kesimpulan sebagai hampa keajaiban (nothing’s miracle), tak ada yang menarik, tak ada yang baik dan tak ada peluang.

Proses Belajar

Langkah Pertama: Timbangan

Dalam praktek hidup mungkin akan terlalu sulit menemukan orang yang tidak pernah membicarkan kejelekan orang lain. Di samping adanya faktor "Lupa" dan "Ingat" yang kita miliki, pun juga tak ada batasan yang jelas antara critical spirit dan kritik membangun (constructive critic), kecuali kitalah yang membikin batasan sendiri.

Salah satu jurus yang bisa kita jadikan standar untuk mengukur porsi yang wajar dan porsi yang kebablasan adalah membuat timbangan yang kita awasi sendiri. Angka timbangan ini bisa kita ambilkan dari temuan Paretto 80: 20 atau 20: 80 dan lain-lain. Bila 80 % dari kebiaasan kita sudah menggunakan lensa negatif, maka yang perlu kita waspadai adalah, jangan-jangan kejelekan orang lain itu selalu nampak di mata kita karena lensa yang kita gunakan mayoritasnya sudah menjadi negative, baik yang kita gunakan untuk melihat ke dalam atau keluar.

Sebaliknya kalau kesadaran kita menyimpulkan bahwa hanya 20 % dari kebiasaan kita yang menggunakan lensa negatif, kira-kira secara manusiawi bolehlah kita mengatakan masih wajar, ada alasan yang mendukung, kritik yang memang dibutuhkan, kritik yang mungkin bisa membangun atau kritik yang bisa kita gunakan sebagai cermin bagi diri kita tentang apa yang baik dan apa yang tidak baik, tentang apa yang salah dan apa yang tidak salah. Semua orang sudah tahu bahwa orang lain itu terkadang sama seperti kita: ada bagian yang kurang dan ada bagian yang pas. Semua orang juga sudah tahu bahwa keadaan itu terkadang bisa berubah meleset secara brutal tetapi terkadang juga berubah secara lunak

Langkah Kedua: Rumus 3M

Langkah ini pernah ditulis oleh Jim Rohn (Evaluating Your Associations Part 1 & II, Jim Rohn International: 2004) dan bisa kita gunakan untuk menyiasati ajakan ngerumpi dari lingkungan kerja yang menurut kita sudah sampai pada porsi kebablasan dan tidak menutup kemungkinan akan membuat kita ketularan energi negatif.

Rumus pertama, adalah memutuskan (M1). Bukan memutuskan hubungan dengan orang per orangnya secara fisik karena faktor kebencian, karena factor ini pun berpotensi melahirkan critical spirit. Kita bisa melakukannya dengan cara asertif dan lebih damai, misalnya saja kita bisa memutuskan untuk berniat menjadi orang yang lebih baik tanpa harus membandingkan dan mengkaitkan "kebaikan" kita dengan keburukan / kejelekan orang lain. Cara lain untuk memutuskan adalah tidak menyambung api pembicaraan negatif dengan memberi bahan bakar supaya lebih besar dan menyala-nyala. Masih banyak lagi cara-cara yang bisa kita tempuh untuk memutuskan saluran energi negatif lingkungan tanpa harus membuat hubungan kita putus dengan orang-orangnya.

Rumus kedua, adalah membatasi (M2). Membatasi inipun bentuk dan jenisnya tidak hanya satu tetapi cukup variatif, tergantung pilihan yang menurut kita cocok. Kita bisa membatasi diri kita dengan materi atau frekuensi atau jenis kelompok orang tertentu. Dan lagi, kalau kita masih belum mampu membuat batasan fisik, batasan yang bisa kita gunakan adalah batas mental semacam "sistem seleksi dan pengecualian", tidak semua kita terima pun juga tidak semua kita tolak: ngerumpi selektif.

Rumus ketiga, adalah memperluas (M3). Memperluas inipun bisa bermacam bentuk dan jenisnya. Kita bisa memperluas dengan cara menambah inisiatif aktivitas yang bisa kita lakukan dan bisa pula menambah dengan cara memperluas jaringan hubungan untuk mendapatkan pilihan yang lebih banyak. Menambah inisitif untuk melakukan sesuatu yang bisa mengurangi kerentananan terhadap "gampang terkena godaan" ajakan ngerumpi yang menurut kita sudah tidak sehat lagi tidak sehat.
Formula di atas tak akan lebih manjur melebihi kesadaran dan kontrol kita untuk membedakan mana ngerumpi yang dibutuhkan dan ngerumpi yang tidak dibutuhkan. Kesadaran pulalah yang akan lebih kuat untuk membedakan apakah kejelekan orang lain yang nampak di mata kita itu karena orang lain memang sedang jelek atau lensa yang kita gunakan sedang jelek. Semoga berguna.

Senin, 05 November 2007

Ruang Psikologi Edisi 6 Nov 2007

Pede atau Egois?



Pendapat para ahli yang diilhami kenyataan menyimpulkan bahwa rasa percaya diri atau sering diistilahkan dengan 'pede' merupakan kualitas personal yang dibutuhkan. Dengan merasa pede berarti kita sudah memulai perjalanan hidup yang berlandaskan pada keunggulan-diri, arah kiblat (direction) yang sudah kita tentukan, fokus hidup yang telah kita pilih, keputusan hidup yang telah kita ambil dan kemudian membuat kita merasa punya hak untuk mendapatkan apa yang benar-benar kita inginkan. Kekuatan pede juga membuat kita yakin bahwa tantangan apapun yang menghadang masih berada dalam kapasitas kita untuk diselesaikan.

Tetapi dalam praktek, kata pede sudah mengalami 'over-used' dan tidak jarang didefinisikan secara kabur antara pede yang kita butuhkan dan pede yang seharusnya tidak kita miliki (penyimpangan). Orang sering salah mengalamatkan penilaian antara pede dengan ego-centered (egoisme), menang sendiri atau merasa benar sendiri. Padahal kalau kita telusuri sampai ke akar, perbedaan antara pede yang menyimpang dan pede yang lurus (self confidence) bukan karena persoalan kadar melainkan murni berbeda di tingkat sumber motif. Artinya, baik praktek perilaku, sifat, dan sikap egois bukanlah karena kadar rasa percaya diri yang terlalu kuat melainkan justru karena kurang dari kadar yang dibutuhkan dan akhirnya menyimpang

Motif
Pede yang menyimpang berangkat dari sumber motif berupa perasaan yang merasa kurang (feeling of lack) secara berlebihan (excessive). Ketika orang membangun asumsi dasar tentang dirinya bahwa ia tidak memiliki kemampuan potensial yang cukup untuk diolah menjadi keunggulan guna mengalahkan tantangan atau meraih apa yang benar-benar diinginkan, maka perasaan tersebut pada kadar yang terus dibiarkan akan menggumpal bersama keyakinan bahwa untuk mendapatkan seseuatu tidak ada jalan lain lagi kecuali mengambil dari luar. Keyakinan demikian akan menghasilkan praktek yang bertabrakan dengan kepentingan orang lain yang memiliki keyakinan serupa. Di level internal, keyakinan demikian sering membuat orang merasa tidak punya alasan untuk menghargai dirinya secara positif, misalnya saja munculnya perasaan Self-laziness atau "The I cannot attitude".
Pede yang yang menyimpang (cth: ego-centered, dll) juga berangkat dari sumber perasaan yang merasa takut secara berlebihan (feeling of fear). Asumsi personal yang sering dipakai adalah ketika kita mulai merasa bahwa sumber keamanan (penyelesaian masalah) berada di luar diri dan sangat terbatas jumlahnya sehingga sedikit saja tersenggol oleh kepentingan atau keinginan orang lain akan membuat kita merasa sulit memaafkan orang tersebut seumur hidup. Kita menjadi cepat tersinggung dengan letupan amarah yang tidak terkontrol. Rasa takut yang negatif juga sering membuat pagar mental berupa ketakutan menghadapi tantangan yang merupakan risiko hidup. Kedua perasaan itulah yang kemudian menghasilkan kesimpulan rasa rendah diri (inferioritas) yang bisa ditampilkan dalam bentuk perilaku, sifat, atau sikap secara aggressive atau submissive.
Orang yang pede dalam arti 'self confidence' bukanlah orang yang tidak memiliki rasa takut atau rasa kurang tetapi ia memiliki kemampuan bagaimana menguasainya (self mastery) agar tetap berada dalam norma kadar yang bisa dikendalikan. Asumsi dasar yang digunakan berangkat dari perasaan memiliki kemampuan (self-sufficient) untuk mengatasi tantangan dan merealisasikan apa yang diinginkan. Rasa Percaya diri seperti inilah yang sebenarnya kita butuhkan. Bedanya lagi, pede yang terakhir adalah murni berupa pencapaian kualitas hidup yang diraih seseorang melalui proses usaha, sementara pede yang menyimpang bisa kita katakan sebagai limbah yang berarti untuk mencapainya tidak diperlukan proses atau usaha pun.

Kompas
Di dalam diri kita sebenarnya sudah diciptakan kompas (patokan) yang dapat membedakan antara pede yang meyimpang dan pede yang benar-benar kita butuhkan, yaitu:

Perasaan (Emotional)

Hati (Spiritual)

Akal (Intellectual)


Ketiga kompas di atas adalah anugerah (kemampuan potensial). Agar bisa bekerja membantu kita dibutuhkan syarat yaitu menciptakan usaha untuk mencerdaskannya secara terus-menerus.
Perasaan adalah perangkat internal untuk merasakan impuls atau stimuli (godaan & tawaran) yang dapat membedakan bad dan good. Perasaan tidak memiliki mata tetapi lebih banyak memiliki telinga, 'pendengaran' sehingga ketika sensitivitasnya tajam (dicerdaskan) akan membuat orang langsung bisa merasakan mana pede yang good (confidence) di antara pede yang bad (egoism) meskipun tidak kelihatan.
Hati berfungsi untuk memaknai kebenaran hukum alam yang sudah diformalkan atau yang belum. Meskipun manusia bisa meng-elaborasi kebenaran menjadi sekian bentuk sesuai kepentingan masing-masing, tetapi hatilah yang akan berbicara dengan 'suara hati kecil'. Dilihat dari sebutannya saja sudah bisa ditebak mengapa kita jarang mendengarkannya. Sudah lokasinya di dalam, bentuknya kecil selain itu suaranya pun kecil. Kalau tidak dicerdaskan akan membuat telinga kita (perasaan) sulit mendengarkan suara hati apalagi penglihatan.
Akal berfungsi untuk menalar antara materi yang tepat (correct) dan yang tidak tepat (incorrect). Akal memiliki banyak penglihatan sehingga dikatakan 'the window', pintu exit-permit yang bisa menyumbangkan muatan perasaan atau keyakinan. Patut diakui di antara penyebab penyimpangan adalah adanya pengetahuan oleh akal yang tidak bisa menghasilkan pemahaman personal secara definitive antara rasa percaya diri dan egoisme. Pengetahuan yang rancau, abstrak, dan berada pada level umum sulit mendorong kita pada keputusan hidup yang definitif. Walhasil kita berperilaku egois karena egois yang kita pahami adalah egois dalam pengertian rasa percaya diri menurut kita.
Ketiga kompas internal di atas dapat bekerja secara proporsional (saling mendukung-melengkapi) apabila usaha yang kita jalankan dalam rangka mencerdaskan tidak terjadi anak-emas dan anak tiri atau anak yatim. Pengalaman mengajarkan, perlakuan dikotomis atas kompas internal di atas melahirkan sifat, watak dan perilaku yang kontradiktif dan pincang. Ada orang yang sebagian waktunya digunakan berada di tempat ibadah dengan khusuk tetapi giliran punya persoalan air dengan tetangga perasaannya tidak berfungsi secara proporsional.

Beberapa Saran
Penyimpangan adalah persoalan manusiawi dan normal tetapi yang sering bikin abnormal adalah kebablasan yang berkelanjutan dan tidak kita perbaiki. Beberapa materi pembelajaran berikut dapat kita jadikan acuan untuk mempertebal rasa percaya diri agar tidak menyimpang ke praktek yang tidak diinginkan:

1. Kebiasaan
Memiliki kebiasaan untuk mencerdaskan pikiran, perasaan, dan hati adalah kebutuhan mutlak. Tanpa dicerdaskan tidak berarti stabil sebab impuls dan stimuli dunia terus berubah di mana kalau kita tidak diiringi dengan perubahan diri akan mudah terjebak. Pikiran yang dicerdaskan dengan pengetahuan akan memperbaiki sudut pandang yang akan menjadi sumber rasa percaya diri. Perasaan yang dicerdaskan akan memperbaiki pemahaman 'merasakan' apa yang terjadi pada diri sendiri, orang lain dan dunia (wilayah kita). Hati yang dicerdaskan dengan kebiasaan memaknai akan mempertebal keyakinan bahwa semua yang kita lakukan baik atau buruk, kecil atau besar pada akhirnya akan mendapat balasan.

2. Kekuatan
Rasa percaya diri identik dengan kekuatan pribadi (personal power) yang bisa kita bangun dengan menggunakan dua jurus yaitu menyerang dan mempertahankan. Untuk mempertebal rasa percaya diri, jurus menyerang harus kita gunakan untuk melawan kecenderungan internal yang menawarkan godaan untuk menyimpang sementara jurus mempertahankan kita gunakan untuk memperkuat pertahanan dari serangan luar. Penggunaan yang salah dengan membalik fungsi akan memperlemah personal power yang berarti dapat memperlemah rasa percaya diri.

3. Komitmen
Memiliki komitmen untuk merealisasikan gagasan ke tindakan secara sirkulatif bisa mempertebal rasa percaya diri dengan syarat sampai mendapat apa yang disebut 'the moment of truth' atau sampai benar-benar berhasil. Apa yang sering menjadi persoalan adalah kita sering menggunakan ideology 'mencoba' tanpa komitmen sampai berhasil. Ideologi demikian sulit diharapkan bisa mempertebal rasa percaya diri. Bahkan kalau sering gagal lalu kita tinggalkan dengan mengganti yang lain dan akhirnya gagal juga malah akan membuat kita ragu-ragu.
Sekelumit penjelasan di atas hanyalah mewakili dari sekian tampilan monitor sikap, perilaku dan sifat yang awalnya dibedakan pada tingkat sumber motif di dalam. Tidak kelihatan, kecil, dan sering kita anggap tidak membahayakan bagi diri kita apalagi orang lain. Meskipun demikian, Tuhan telah memberikan perangkat yang bisa membenahi sebelum akhirnya tampil di monitor. Di luar ketiga perangkat yang sudah ada, terdapat satu perangkat yang inti, yaitu kemauan. Semoga berguna.

Rabu, 31 Oktober 2007

Klinik Angkasa Edisi 1 Nov 2007

Gaya Hidup "Menikam" Jantung


Organ ini sudah bekerja sejak manusia masih dalam kandungan. Tapi kini, lifestyle berpengaruh besar terhadap penyakit yang menyerang organ sebesar kepalan tangan.Hampir setiap istirahat kerja, Iskandar (35 tahun) selalu memilih menu soto betawi yang menjadi kegemarannya. Jeroan yang dicampur dengan kuah kental yang panas, selalu menjadi sajian favoritnya di kala makan siang. Selama ini ia mengaku belum pernah mengalami keluhan seputar kesehatannya, meski penampilannya pun relatif gemuk. Namun seminggu belakangan ini, ia merasa dadanya sesak dan nafasnya tersengal-sengal ketika harus menaiki tangga rumahnya.Keluhan ini disampaikan kepada saudaranya yang juga seorang dokter.

Kemudian setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata diketahui bahwa Iskandar mengidap kolesterol dan gejala penyakit jantung. Beruntung, penyakit ini telah terdeteksi sebelum timbul serangan yang lebih parah dan bisa menyebabkan kematian.Memang, penyakit jantung merupakan pembunuh nomor satu di Indonesia untuk usia 40 hingga 50 tahun. Bahkan Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) dan Organisasi Federasi Jantung Sedunia (World Heart Federation) memprediksi bahwa penyakit jantung akan menjadi penyebab utama kematian di negara-negara Asia pada tahun 2010.
Sebagai penggemar makanan berkolesterol tinggi, Iskandar memang memiliki resiko besar mengidap penyakit jantung koroner. Penyakit ini menyerang pembuluh darah dan dapat menyebabkan serangan jantung. Serangan jantung dikarenakan pembuluh arteri tersumbat, yang menghambat penyaluran oksigen dan nutrisi kejantung.Menurut dokter Hananto Andriantoro, SpJP, FIHA, ahli jantung dan pembuluh darah dari Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, saat kerja jantung meningkat akibatnya tekanan darah meningkat dan denyut jantung pun naik. Terjadinya hal ini bisa karena sedang gembira, cemas, kaget, olahraga atau stres. Otomatis jantung bekerja lebih keras lagi dan membutuhkan oksigen lebih banyak.

Oksigen ini dibawa oleh sel darah merah melalui pembuluh koroner jantung. "Nah,bila asupan oksigen ini terhambat akibat salurannya tersumbat, akibatnya terjadi serangan jantung koroner dan bisa menyebabkan kematian," jelasnya.Ada lagi resiko yang mengancam kejantanan pria apabila pembuluh darah arteri pudenda yang menuju ke alat kelamin tersumbat atau rusak. Akibatnya bisa fatal, disfungsi ereksi permanen bisa saja terjadi. Karena pembuluh darah inilah yang mengalirkan darah saat pria ereksi. "Sebaiknya setiap orang yang mengalami hal ini harus terbuka kepada dokter. Jangan karena masalah ini tabu, lalu memilih untuk mengobati sendiri dengan jamu atau ramuan obat kuat lain yang belum jelas hasilnya. Malah bisa terjadi komplikas,” pesan dokter Hananto.Berdasarkan hasil penelitian Guru Besar UI, Prof. Dr. Dede Kusmana pada tahun 2005 lalu, disebutkan 99 persen penyakit jantung ini memang disebabkan perubahan pola dan gaya hidup.

Perubahan itu membuat masyarakat kurang aktif bergerak, mengonsumsi makanan berlemak dan berkolesterol tinggi, merokok dan stres. Inilah yang dapat memicu munculnya resiko penyakit jantung.Namun bukan berarti Anda tidak boleh mengkonsumsi makanan berlemak sama sekali. Lemak yang baik diperlukan, bahkan penting bagi struktur dan fungsi setiap sel dalam tubuh manusia. Lemak merupakan "bahan bakar" yang memberi Anda tenaga dua kali lebih banyak daripada jenis makanan lain. Lemak yang disimpan dalam tubuh juga berfungsi sebagai bank penyimpan tenaga. Lemak adalah bahan penyekat yang melindungi Anda dari rasa dingin yang merusak. Lemak juga menutupi saraf-saraf tubuh.

Jenis lemak yang baik ini disebut HDL (high density lipoproteins). Ia dapat membantu menghilangkan kolesterol yang merusak dan tidak diinginkan itu dari pembuluh-pembuluh darah. Sehingga berfungsi juga mencegah serangan jantung.Dokter Hananto menyarankan, untuk mengimbangi antara pola makan yang masih belum memenuhi gizi seimbang, sebaiknya melakukan exercise. Porsi latihan rutin minimal tiga kali seminggu, dapat membantu membakar lemak yang tertimbun dalam tubuh. Treadmil selama setengah jam dapat meningkatkan denyut jantung yang optimal.Selain exercise, langkah terbaik untuk mencegah terkena resiko penyakit jantung tentu dengan mengganti pola makan yang sehat.

Salah satu makanan yang bersahabat dengan jantung Anda adalah makanan yang mengandung biji-bijian. Karena memiliki kandungan serat, kaya vitamin, mineral serta antioksidan. Hal ini didukung oleh hasil studi dokter Luc Djousse, dari Sekolah Kedokteran Harvard, Amerika Serikat yang menyatakan hasil studinya di forum tahunan Asosiasi Jantung Amerika. Hasil penelitiannya mengungkapkan manfaat positif dari sereal gandum juga dirasakan oleh orang dewasa. Sereal yang terbuat dad gandum atau biji padi kaya akan serat yang efektif menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol jahat.

Sekaligus menghindari serangan jantung.Untuk mengetahui apakah pembuluh darah kita mengalami penyumbatan atau menyempit, bisa dengan melakukan deteksi dini cardiovasculer. Langkah mudahnya, dilakukan dengan melihat pembuluh darah pada leher. Lewat USG dapat diketahui, bila terjadi penebalan lebih dari 1 mili (normal) maka harus dilakukan pengobatan. Karena apabila hal ini terjadi, mengindikasikan pembuluh darah koroner dan pembuluh darah lainnya terjadi penebalan. Jadi, cegahlah sebelum ia berhenti berdetak.

Created By : EchO

Selasa, 30 Oktober 2007

Ruang Psikologi Edisi Selasa 30 Okt 2007

Perkelahian Pelajar

Perkelahian, atau yang sering disebut tawuran, sering terjadi di antara pelajar. Bahkan bukan “hanya” antar pelajar SMU, tapi juga sudah melanda sampai ke kampus-kampus. Ada yang mengatakan bahwa berkelahi adalah hal yang wajar pada remaja.

Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, tawuran ini sering terjadi. Data di Jakarta misalnya (Bimmas Polri Metro Jaya), tahun 1992 tercatat 157 kasus perkelahian pelajar. Tahun 1994 meningkat menjadi 183 kasus dengan menewaskan 10 pelajar, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas. Terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat. Bahkan sering tercatat dalam satu hari terdapat sampai tiga perkelahian di tiga tempat sekaligus.

Dampak perkelahian pelajar

Jelas bahwa perkelahian pelajar ini merugikan banyak pihak. Paling tidak ada empat kategori dampak negatif dari perkelahian pelajar. Pertama, pelajar (dan keluarganya) yang terlibat perkelahian sendiri jelas mengalami dampak negatif pertama bila mengalami cedera atau bahkan tewas. Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti bus, halte dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan. Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah. Terakhir, mungkin adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik, adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Para pelajar itu belajar bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah mereka, dan karenanya memilih untuk melakukan apa saja agar tujuannya tercapai. Akibat yang terakhir ini jelas memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat di Indonesia.

Pandangan umum terhadap penyebab perkelahian pelajar
Sering dituduhkan, pelajar yang berkelahi berasal dari sekolah kejuruan, berasal dari keluarga dengan ekonomi yang lemah. Data di Jakarta tidak mendukung hal ini. Dari 275 sekolah yang sering terlibat perkelahian, 77 di antaranya adalah sekolah menengah umum. Begitu juga dari tingkat ekonominya, yang menunjukkan ada sebagian pelajar yang sering berkelahi berasal dari keluarga mampu secara ekonomi. Tuduhan lain juga sering dialamatkan ke sekolah yang dirasa kurang memberikan pendidikan agama dan moral yang baik. Begitu juga pada keluarga yang dikatakan kurang harmonis dan sering tidak berada di rumah.

Padahal penyebab perkelahian pelajar tidaklah sesederhana itu. Terutama di kota besar, masalahnya sedemikian kompleks, meliputi faktor sosiologis, budaya, psikologis, juga kebijakan pendidikan dalam arti luas (kurikulum yang padat misalnya), serta kebijakan publik lainnya seperti angkutan umum dan tata kota.

Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency). Kenakalan remaja, dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis delikuensi yaitu situasional dan sistematik. Pada delikuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang “mengharuskan” mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat. Sedangkan pada delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada di dalam suatu organisasi tertentu atau geng. Di sini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti angotanya, termasuk berkelahi. Sebagai anggota, mereka bangga kalau dapat melakukan apa yang diharapkan oleh kelompoknya.

Tinjauan psikologi penyebab remaja terlibat perkelahian pelajar
Dalam pandangan psikologi, setiap perilaku merupakan interaksi antara kecenderungan di dalam diri individu (sering disebut kepribadian, walau tidak selalu tepat) dan kondisi eksternal. Begitu pula dalam hal perkelahian pelajar. Bila dijabarkan, terdapat sedikitnya 4 faktor psikologis mengapa seorang remaja terlibat perkelahian pelajar.
1.Faktor internal.

Remaja yang terlibat perkelahian biasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Kompleks di sini berarti adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi, dan semua rangsang dari lingkungan yang makin lama makin beragam dan banyak. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang. Tapi pada remaja yang terlibat perkelahian, mereka kurang mampu untuk mengatasi, apalagi memanfaatkan situasi itu untuk pengembangan dirinya. Mereka biasanya mudah putus asa, cepat melarikan diri dari masalah, menyalahkan orang / pihak lain pada setiap masalahnya, dan memilih menggunakan cara tersingkat untuk memecahkan masalah. Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustrasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki perasaan rendah diri yang kuat. Mereka biasanya sangat membutuhkan pengakuan.

2. Faktor keluarga.

Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau pada anaknya) jelas berdampak pada anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang wajar kalau ia melakukan kekerasan pula. Sebaliknya, orang tua yang terlalu melindungi anaknya, ketika remaja akan tumbuh sebagai individu yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik. Begitu bergabung dengan teman-temannya, ia akan menyerahkan dirnya secara total terhadap kelompoknya sebagai bagian dari identitas yang dibangunnya.

3.Faktor sekolah.

Sekolah pertama-tama bukan dipandang sebagai lembaga yang harus mendidik siswanya menjadi sesuatu. Tetapi sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas pengajarannya. Karena itu, lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar (misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan dengan pengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum, dsb.) akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya. Baru setelah itu masalah pendidikan, di mana guru jelas memainkan peranan paling penting. Sayangnya guru lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan, serta sebagai tokoh otoriter yang sebenarnya juga menggunakan cara kekerasan (walau dalam bentuk berbeda) dalam “mendidik” siswanya.

4.Faktor lingkungan.

Lingkungan di antara rumah dan sekolah yang sehari-hari remaja alami, juga membawa dampak terhadap munculnya perkelahian. Misalnya lingkungan rumah yang sempit dan kumuh, dan anggota lingkungan yang berperilaku buruk (misalnya narkoba). Begitu pula sarana transportasi umum yang sering menomor-sekiankan pelajar. Juga lingkungan kota (bisa negara) yang penuh kekerasan. Semuanya itu dapat merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya, dan kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung untuk munculnya perilaku berkelahi.

Rabu, 24 Oktober 2007

Klinik Angkasa Edisi Kamis 25 Okt 2007

Virgin Coconut Oil: Apa Manfaatnya??



Minyak kelapa adalah minyak dengan asam lemak jenuh yang mengandung asam laurat yang tergolong asam lemak rantai medium (Medium Chain Fatty Acid atau MCFA) dengan 12 atom karbon. Asam laurat berfungsi sebagai antimikroba alami yang ampuh membunuh berbagai kuman, virus, dan parasit. Minyak kelapa tidak mengandung kolesterol karena merupakan minyak nabati.Minyak kelapa dikenal juga dengan nama minyak kelentik, yang diproses dengan pemanasan 100-120oC sehingga dihasilkan minyak yang berwarna kuning. Minyak kelapa yang sering digunakan untuk obat adalah berwarna bening dan sering disebut dengan Virgin Coconut Oil (VCO), yang dibuat dengan suhu rendah yaitu kurang dari 60oC. Kelebihan minyak tersebut adalah struktur kimianya, terutama medium chain fatty acids pada asam laurat, tidak banyak berubah. Perlu diketahui, asam laurat merupakan asam lemak yang banyak memberikan manfaat bagi kesehatan.VCO mengandung asam laurat yang tinggi dan MCFA sebanyak 92%. VCO tidak berwarna, tidak berasa, dan memiliki wangi yang khas. Karena memiliki asam lemak berantai medium, minyak ini merupakan sumber energi yang siap pakai dan lebih mudah diserap oleh tubuh sehingga tidak menjadi lemak. Selain itu, VCO juga diduga?mampu mengatasi beberapa penyakit degeneratif, gangguan saluran cerna, dan juga untuk kecantikan. Biasanya dikonsumsi cukup tiga sendok makan setiap hari atau dicampur dengan makanan dan minuman lainnya

Berikut ini beberapa manfaat VCO yaitu:

1.Mengurangi risiko arteriosklerosisMinyak tersebut tidak menambah pembentukan gumpalan darah, memulihkan luka pada dinding pembuluh darah yang disebabkan oleh infeksi virus, bakteri dan radikal bebas, serta merangsang metabolisme sehingga dapat menekan kolesterol darah.

2.Mencegah dan mengobati stroke

3.Mengontrol diabetesMinyak tersebut dapat meningkatkan metabolisme tubuh sehingga banyak kalori yang terbakar dan tubuh tidak menyimpan asam laurat dalam bentuk lemak. Asam lemak rantai sedang tersebut akan dikirim langsung ke hati untuk diubah menjadi energi.

4.Mengurangi risiko kankerZat antimokroba yang terdapat dalam asam laurat akan membantu sel-sel darah putih mambasmi bakteri-bakteri penyebab penyakit sehingga meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Berkurangnya bakteri dalam tubuh akan meringankan kerja sel darah putih untuk lebih bebas menghancurkan sel-sel kanker dan membersihkan racun.

5.Mencegah tekanan darah tinggiMinyak tersebut langsung diubah menjadi energi siap pakai sehingga tidak menyebabkan obesitas, sebagai faktor risiko terjadinya hipertensi. Minyak tersebut juga dapat melarutkan vitamin A, D, E dan K.

6.Mencegah sakit liverAsam lemak rantai sedang dalam VCO langsung disalurkan liver dari saluran pencernaan. Asam lemak tersebut akan menonaktifkan virus hepatitis dan menghambat pembentukan radikal bebas dalam liver.

7.Mencegah osteoporosisMinyak tersebut memperbaiki penyerapan mineral, melindungi tulang dari radikal bebas, dan mempertahankan keseimbangan hormon.

8.Mempermudah pengurangan berat badan akibat obesitas

9.Meredakan gangguan pada saluran kandung empeduMinyak tersebut juga bermanfaat untuk mengatasi penyakit lainnya seperti influenza, cacar air, herpes, pneumonia, dan infeksi vagina. Asam laurat yang terkandung di dalamnya berfungsi untuk melawan virus, jamur, bakteri maupun mikroba patogen.
10.Untuk kecantikan Minyak ini juga bisa digunakan untuk kecantikan, yaitu melembutkan kulit, mencegah pengerutan kulit, dan memberikan penampilan rambut yang sehat.